WHAT'S NEW?

Renungan untuk Para Guru Galak, Kisah Sebuah Paku



Random Post
    Dikisahkan ada seorang guru muda di suatu daerah terpencil yang terkenal sangat tempramen dan emosian, sedikit saja muridnya melakukan sebuah kekeliruan maka sang guru pasti akan memakinya habis - habisan, entah itu karena masalah sepele atau juga karena masalah yang cukup besar. Bahkan suatu ketika pernah seorang murid hanya karena tidak mengerjakan PR tepat waktu sang guru langsung memaki - makinya di hadapan para murid dengan ucapan - ucapan yang tidak pantas yang tentu membuat si siswa tersayat hatinya dan sedih dengan ucapan gurunya tersebut.
    Renungan untuk Para Guru Galak, Kisah Sebuah Paku

    Namun demikian, guru tetaplah guru, seorang manusia yang masih memiliki hati nurani. Sang guru setiap melakukan tindakan tersebut pasti muncul perasaan menyesal dan merasa bersalah telah melakukan itu. Tapi disisi lain dia memang tidak mampu menahan emosi serta kekesalannya jika melihat ada sesuatu didepannya tidak sesuai dengan yang diinginkan. Sekecil apapun itu, jika tidak sesuai dengan harapannya maka rasa kesal akan muncul dari dalam diri si guru.

    Menyadari keburukan itu, sang guru pun mulai mencari cara agar dirinya tidak membiasakan berbuat seperti demikian, karena dia tahu sendiri perbuatan tersebut adalah sesuatu yang tidak bagus. Sampai pada akhirnya sang guru memiliki ide untuk menjumpai seseorang yang menurutnya dapat memberikan sebuah solusi yang tepat untuk mengatasi masalah yang sedang dideranya. Dan orang tersebut tak lain dan tak bukan adalah sahabatnya sendiri.

    Ketika dia sudah berjumpa dengan sahabatnya, sang guru pun mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sang sahabat dengan sabar mendengarkan keluhan - keluhan yang diungkapkan oleh teman dekatnya itu.

    Di pembicaraannya ini sang guru menceritakan bahwa dirinya tidak bisa menahan emosi jika sekiranya ada murid yang melakukan kesalahan, baik itu kecil maupun besar. Tak pelak, hal tersebut membuatnya selalu merasa bersalah dan ingin segera menghentikan tabiat buruk tersebut. Namun demikian, meskipun keinginan kuat untuk memperbaiki diri sudah tertanam tapi ketika dia dihadapkan dengan permasalahan yang sama dia merasakan ketidakmampuan untuk menahan diri dan ingin sekali meluapkan kemarahan kepada anak bersangkutan. Sampai pada akhirnya dia pun kembali memarah - marahi si anak.

    Selesai mendengarkan keluahan - keluhan temannya, sang sahabat pun mulai angkat bicara, dia menyarankan temannya ini untuk mempersiapkan sebuah paku di rumahnya. Ketika dia marah dan sudah teramat sangat meluap - luap, cobalah meluapkan segala bentuk emosi dan kekesalannya dengan menancapkan sebuah paku sedalam-dalamnya di dinding rumahnya. Jika dia kesal terhadap satu anak, tancapkan satu paku pada dinding rumahnya, jika dua anak  berarti dua paku yang harus di tancapkan dan seterusnya. Mendengar saran sahabatnya ini sang guru pun mengiyakannya dan akan mencoba untuk melaksanakan semua saran - saran tersebut.

    Waktu terus berjalan, tak terasa sudah enam bulan lamanya terhitung semenjak pembicaraan antara kedua sahabat ini. Selama hampir enam bulan sang guru sudah melaksanakan semua saran teman dekatnya. Dan dari apa yang telah dilakukannya, dia merasakan sebuah perubahan besar dari dalam dirinya, sekarang ia sudah mampu menahan rasa marah serta emosi tanpa harus menancapkan paku di dinding rumahnya.

    Melihat perbuahan besar ini, sang guru pun kembali menemui sahabatnya dan menceritakan apa yang telah dirasakannya. Dia menceritakan bahwa dirinya sudah mampu menahan diri dan tidak marah - marah lagi ke muridnya. Ucapan tersebut tentu membuat sang sahabat ikut bahagia dan ia tersenyum senang dengan perubahan tersebut. Namun demikian, sang sahabat nampaknya belum puas dengan apa yang telah dilakukan oleh temannya, ia memberikan sebuah aba - aba bahwa apa yang dilakukannya belum selesai, masih ada satu hal lagi yang harus dilakukan oleh sang guru, yaitu mencabut semua paku yang tertancap pada dinding rumahnya.

    Untuk yang satu ini sang guru sedikit menawar dan mengatakan bahwa ia akan melakukannya ketika punya waktu saja karena saat ini ia sedikit kurang semangat untuk mencabut  paku - paku yang tertancap di dinding rumahnya. Mendengar ucapan tersebut sang sahabat langsung menghentak, dia sedikit memaksa untuk segera mencabut paku - paku tersebut saat ini juga dan jika sudah selesai dia meminta untuk segera diberi tahu. Melihat hal tersebut, sang guru tentu tidak bisa menolak dan akhirnya dia pun melakukan apa yang diminta sahabatnya tersebut.

    Keesokan harinya sang guru kembali menemui sahabatnya dan memberi tahu bahwa dirinya telah mencabut semua paku di dinding rumahnya. Ia juga bercerita bahwa pada saat mencabutnya ia merasakan "kesulitan" dan harus "berjuang dengan keras".

    Mendengar ucapan tersebut sang sahabat mengiyakannya.

    "Paku sulit dicabut diibaratkan seperti sulitnya mencabut kembali efek negatif dari perkataan - perkataan yang sudah kita hempaskan kepada siswa kita. Perkataan tersebut setidaknya sudah sangat cukup untuk menghancurkan masa depan dan kepercayaan diri. Dan untuk memperbaiki hati siswa seperti ini maka harus ada kerja keras dari guru bersangkutan untuk memperbaikinya"

    Kalimat diatas menyadarkan hati sang guru. Ia baru sadar, ternyata masih ada PR yang masih harus diselesaikan yaitu mengembalikan hati siswa yang telah tersakiti oleh ucapan - ucapannya dahulu. Dan mulai sejak itu sang guru pun mulai memperbaiki diri dan menjalin hubungan baik dengan siswa - siswanya.


    Ide Kreatif Guru Says:
    "Terimakasih telah berkunjung ke situs ini, semoga artikel yang kami berikan bisa bermanfaat dan menambah wawasan baru kepada anda kehususnya berkenaan dengan pembelajaran "

    0 comments:

    Post a Comment

    Portal Belajar Fisika